KERIS PAMOR RANTE

RANTE.
Tuah utama pamor ini adalah untuk menampung dan mengembangkan rejeki yang didapat. Bisa mengurangi sifat boros, tetapi bukan pelit. Cocok untuk semua orang baik digunakan berdagang atau berusaha. Bentuknya agak mirip pamor Melati Rinonce, hanya bedanya pada bulatannya ada semacam gambar “lubang”.

KERIS PAMOR MELATI RINONCE

MELATI RINONCE.
Bentuknya mirip pamor Rante tetapi umumnya bulatannya lebih kecil dan tidak berlubang. Bulatan itu berupa pusaran pusaran mirip dengan pamor Udan Mas tetapi agak lebih besar sedikit. Tuahnya mencari jalan rejeki dan menumpuk kekayaan. Untuk pergaulan juga baik, pamor ini tidak memilih dan bisa digunakan siapa saja.

KERIS PAMOR SUMSUM BURON

SUMSUM BURON.
Pamor ini juga mirip Wos Wutah, gumpalan juga terpisah agak berjauhan seperti Pulo Tirto hanya agak lebih besar dan lebih menyatu. Tuahnya baik, tahan godaan dan murah rejeki serta tidak pemilih.

KERIS PAMOR PULO TIRTO

PULO TIRTO.
Seperti Wos Wutah hanya gumpalan gambarnya terpisah agak berjauhan, seperti bentuk pulau pada peta. Tuahnya sama dengan pamor Wos Wutah.

KERIS PAMOR TAMBAL

TAMBAL.
Mirip goresan kuas besar pada sebuah bidang lukisan. Tuahnya biasanya menambah kewibawaan dan menunjang karier seseorang. Menurut istilah Jawa bisa menjunjung derajat. Pamor ini termasuk pemilih dan tidak setiap orang cocok.

KERIS PAMOR NGULIT SEMONGKO

NGULIT SEMANGKA
Sepintas seperti kulit semangka, tuahnya seperti Sumsum Buron, memudahkan mencari jalan rejeki dan mudah bergaul pada siapa saja dan dari golongan manapun. Pamor ini tidak memilih dan cocok bagi siapa saja.

KERIS PAMOR WOS WUTAH

WOS WUTAH.
Pamor yang paling banyak dijumpai, bentuknya tidak teratur tetapi tetap indah dan umumnya tersebar dipermukaan bilah. Ada yang berpendapat pamor ini pamor gagal, saat si empu ingin membuat sesuatu pamor tetapi gagal maka jadilah Wos Wutah. Tetapi ini dibantah dan beberapa empu dan pamor ini memang sengaja dibuat serta termasuk pamor tiban. Pamor ini berkhasiat baik untuk ketentraman dan keselamatan pemiliknya, bisa digunakan untuk mencari rejeki, cukup wibawa dan disayang orang sekelilingnya, pamor ini tidak pemilih.

KERIS REJANG LANDEP

REJANG LANDEP. 
Ini bukan nama salah satu pamor tetapi alur pamor tidak mengarah kealur ditengah melainkan ada bagian (ujungnya) keluar dari bilah (lihat gambar). Apapun pamornya, keris ini tuahnya buruk dan biasanya membawa suasana sengketa serta salah pengertian. Tetapi ada juga yang menyimpan dengan maksud tuah keris ini bisa membantu bila yang punya melakukan suatu kesalahan dan bisa terhindar dari hukuman. Keris yang telah auspun pamornya bisa berubah menjadi Rejang Landep.

KERIS PAMENGKANG JAGAD




 PAMENGKANG JAGAD.
Ada celah memanjang ditengah bilah yang disebabkan retak, paling banyak terjadi dikeris dengan pamor miring. Ini terjadi saat membuat saton sewaktu penempaan suhunya kurang tinggi sehingga ada bagian tertentu yang penempelan besi dan bahan pamornya atau dengan lapisan besi lainnya kurang sempurna. Tetapi ini baru diketahui setelah keris jadi, terutama waktu nyepuhi tiba tiba keris itu retak. Jadi dari segi teknik pembuatan keris ini tergolong mis-product. Karena itu pulalah maka keris yang Pamengkang Jagad umumnya bukan keris yang mempunyai garap baik. Kalangan kraton juga menganggap keris ini tergolong tidak baik. Yang mengherankan kalangan luar keraton banyak yang menganggap ini keris baik, malah amat baik, ini juga disukai di Malaysia, Serawak, Brunei. Diduga ini dikarenakan keris dengan teknik lapis itu dibuat oleh empu keraton sehingga biasanya selalu baik dan mis-product juga tetap dianggap baik mutunya. Dari segi esoteri keris Pamengkang Jagad termasuk pemilih, tidak semua orang bisa cocok, tuahnya bisa dirasakan juga oleh orang sekelilingnya, dianggap cocok untuk orang yang mempunyai kekuasaan diwilayah tertentu seperti Bupati, Komandan Kodim dsb.

PEGAT WAJA.
Keris ini juga keris retak, Cuma retaknya bukan antara besi dengan besi atau besi dengan pamor melainkan antara saton dan lapisan bajanya. Oleh karena itu keris Pegat Waja hanya akan terjadi pada keris-keris yang dilapisi baja saja. Keratakan ini terjadinya bukan vertical permukaan bilah, melainkan horizontal. Mirip dengan keretakan pada kayu Plywood yang tertimpa hujan (nglokop), keris ini sebaiknya dibuang atau dilarung saja karena kurang baik.

SALAH KAPRAH MENYEBUT PAMOR KERIS

Kesalahan dalam penamaan pamor sering dijumpai diantara pecinta keris, celakanya kesalahan ini sering keterusan dan dianggap sesuatu yang betul sehingga nama asli dari pamor tersebut malah kurang dikenal. Yang paling sering dikelirukan adalah pamor Adeg, dikenal sebagai pamor Singkir, padahal Singkir seharusnya nama empu, hanya kebetulan saja empu ini banyak membuat pamor Adeg. Salah kaprah seperti ini banyak terjadi di Jawa Tengah. Kesalahan yang mirip dengan itu adalah penamaan pamor dengan sebutan “bulu ayam”. Pamor seperti Ron Genduru, Ron Pakis, Mayang Mekar, Sekar Tebu, Pari Sawuli dan yang mirip itu, semuanya dianggap sama dan disebut pamor “bulu ayam”. Salah kaprah seperti ini banyak terjadi di Jawa Timur. Salah kaprah lainnya pamor Sedayu, ini salah, karena Sedayu adalah daerah yang banyak membuat keris pada jaman Majapahit dengan empunya yang terkenal Empu Pangeran Sendang Sedayu. Buatannya hanya berpamor sedikit saja dan terkadang tanpa pamor, akibatnya semua yang tanpa pamor atau sedkit sekali pamornya disebut pamor Sedayu. Keris yang tanpa pamor ini, yang besinya hitam mulus, disebut “tanpa pamor” saja atau “Kelengan”.

KERIS PAMOR SAMA

KERIS PAMOR YANG HAMPIR SAMA
Ada beberapa jenis pamor yang bentuknya hampir sama dan sering dikacaukan orang penamaannya. Yang paling sering dikacaukan adalah pamor Wos Wutah, Pulo Tirto dan Pendaringan Kebak. Pamor Pulo Tirto memang mirip sekali dengan Wos Wutah, bedanya pada Pulo Tirto motif gumpalannya terpisah satu sama lainnya dalam jarak cukup jauh sekitar 2 samai 3 cm. Sedangkan pamor Wos Wutah, gumpalannya cukup rapat, seandainya terpisahpun jaraknya cukup dekat sekitar 1 cm saja. Pamor Pendaringan Kebak juga mirip Wos Wutah, tetapi Pendaringan Kebak lebih penuh dan rapat serta nyaris memenuhi seluruh permukaan bilah. Dari bawah sampai ujung bilah dan dari tepi satu ketepi yang lainnya.

Kemudian pamor Adeg, Mrambut dan Ilining Warih. Adeg berupa garis-garis yang tidak terputus dari bagian sor-soran sampai ujung. Sedang Mrambut serupa benar dengan Adeg, tetapi garisnya terputus-putus. Pamor Ilining Warih sama dengan pamor Adeg hanya saja garisnya bercabang dibeberapa tempat. Jadi bedanya kalau garis itu tidak terputus disebut pamor Adeg, kalau terputus disebut Mrambut dan kalau bercabang namanya Ilining Warih. Dengan demikian bila ada yang mengatakan pamor Adeg Mrambut sebetulnya tidak tepat, karena pamor Adeg ada sendiri dan Mrambut ada sendiri.

Jenis lain yang hampir sama adalah Ujung Gunung, Junjung Drajat, Raja Abala Raja dan Pandito Bolo Pandito. Secara umum keempat pamor itu berupa garis yang menyudut. Bedanya kalau Ujung Gunung, kaki garis sudut itu menerjang bilah. Pada pamor Raja Abala Raja, mirip Ujung Gunung, tetapi garis yang membentuk sudut menyebar diberbagai tempat, dibagian sor-soran, bilah dan ujungnya. Kalau pamor Junjung Drajat, serupa dengan Rojo Abolo Rojo, hanya keseluruhan gambar itu berhenti dibagian tengah bilah dan diatasnya ada pamor lain. Keempat pamor ini sering sekali dikacaukan orang.

Selain itu, pamor Udan Mas, Segara Wedhi, Sisik Sewu dan Tetesing Warih juga banyak dikacaukan orang, karena pamor Udan Mas lebih popular maka sering pamor Segara Wedi, Sisik Sewu atau Tetesing Warih dinamakan juga Udan Mas. Agar lebih jelas, perincian Pamor Udan Mas seharusnya : Jumlah lingkaran pusarannya minimal tiga lingkaran, tetapi umumnya ada lima lingkaran, bahkan yang baik (bila dilihat kaca pembesar) ada 8 lingkaran dengan diameter sekitar 5 milimeter, penempatan pamornya bisa teratur seperti kartu domino dan bisa juga tersebar tak beraturan disela sela pamor Wos Wutah.

Pamor Segara Wedhi penampang lingkarannya lebih kecil lagi, sekitar tiga millimeter saja letaknya cenderung mengumpul ditepi bilah dan ditengah bilah umumnya ada pamor Wos Wutah, Pulo Tirto atau Ngulit Semangka atau pamor lainnya. Kalau Sisik Sewu sedikit lebih kecil dari Segara Wedhi, banyak jumlahnya dan rapat satu sama lainnya diseluruh permukaan bilah. Begitu rapatnya sehingga sering tumpang tindih satu sama lainnya. Pamor Tetesing Warih, mirip Udan Mas, tetapi jumlah lingkarannya atau pusarnya hanya tiga atau kurang dan kadang bercampur disela pamor Wos Wutah atau Pendaringan Kebak.

KERIS PAMOR ADEG IRAS

ADEG IRAS. Pamor Adeg yang menyebrang langsung ke Ganja, tetap bukan ditambahi Asihan melainkan dengan tambahan Iras menjadi Adeg Iras dan tuahnya sama dengan pamor Adeg lainnya.

KERIS PAMOR PANCURAN MAS

PANCURAN MAS. Pamor ini juga ornamennya dari bilah menyebrang ke Ganja. Pada bilahnya pamor ini sama betul dengan sada Saeler tetapi pada bagian ganja berbentuk cabang seperti lidah ular. Tuahnya dianggap sama dengan Udan Mas dan tergolong tidak pemilih, cocok untuk semua orang.

KERIS PAMOR ASIHAN

Bentuknya sama dengan Ngulit Semangka hanya pamornya menyambung antara bilah dan ganjanya, karena tuahnya memperlancar pergaulan termasuk antar jenis, maka pamor ini disebut Asihan. Secara lengkap disebut Pamor Ngulit Semangka Asihan. Ada juga Wos Wutah Asihan tetapi jarang sekali. Kedua pamor Ngulit Semangka dan Wos Wutah ini tidak pemilih tetapi pada pamor Asihan keris itu menjadi pemilih dan tidak setiap orang cocok.

PUSAKA PRESIDEN SOEKARNO

Presiden Soekarno dikenal sebagai seorang yang visioner dan rasional. Meski begitu, kehidupan sehari-hari sang proklamator tidak bisa dilepaskan dari hal-hal yang bersifat spiritual-budaya. Bung Karno dipercaya memiliki sejumlah benda pusaka. Bahkan, tongkat komando yang dimilikinya dipercaya merupakan salah satu pusaka.

Sebagai seorang panglima tertinggi, Bung Karno selalu menggunakan seragam kebesarannya yang bergaya militer. Dalam setiap penampilannya, sang putera fajar tak pernah lupa membawa tongkat komando yang menambah kegagahannya.

Seperti dikutip dari Ensiklopedi Keris karya Bambang Harsrinuksmo, jumlah tongkat komando yang dimiliki Bung Karno dipercaya sebanyak tiga buah. Tongkat komando yang dibuat dari kombinasi kayu, gading dan perak berukir itu konon berisi sebilah tombak kecil yang sakti mandraguna.

Saat Bung Karno jatuh dari kursi kekuasaannya pada 1967, tongkat komando miliknya kemudian menjadi legenda yang diceritakan dari mulut ke mulut.

Selain tongkat komando, Bung Karno juga dipercaya memiliki sejumlah keris pusaka. Sekitar tahun 1955 beredar potret resmi pertama dan satu-satunya yang menampilkan seorang presiden RI menggenggam keris.

Di foto itu Bung Karno tengah menggenggam sebilah keris berwarangka sandang walikat berlapis silih asih emas dan perak. Saat itu Presiden Soekarno berdiri tegap dengan menggenakan seragam putih TNI Angkatan Laut berkancing keemasan lengkap dengan tanda pangkatnya.

Namun, hingga kini kepastian kepemilikan keris itu oleh Bung Karno dan keberadaannya masih menjadi misteri.

Setelah Bung Karno wafat pada 1970, cerita pusaka keris yang dimiliki Bung Karno semakin melegenda. Salah satunya ada cerita soal kepemilikan enam buah keris yang diberikan oleh salah seorang pamannya pada 1920-an.

Meski sempat menolak, Soekarno yang saat itu hendak berangkat ke Bandung untuk menyelesaikan kuliahnya di ITB akhirnya menerima enam keris itu sebagai barang titipan. Namun keris itu akhirnya dikembalikan ke cucu pamannya pada akhir tahun 1964.

Enam keris itu sempat dimandikan oleh Almarhum Widyosastrosetika, salah seorang abdi dalem Keraton Yogyakarta. Menurutnya satu dari enam keris itu memiliki keistimewaan lebih karena merupakan keris dapur betok tangguh Singosari.

Selain enam keris itu, Bung Karno juga dipercaya memiliki tiga bilah keris warisan Raja Sisingamangaraja XII. Tiga keris itu diamanahkan keluarga Raja Sisingamangaraja XII kepada Bung Karno ketika menjalani pengasingan di Sumatera Utara pada masa penjajahan Belanda.

Namun, setelah masa pengasingannya selesai, tiga keris itu tidak sempat dibawa Bung Karno ke Jakarta.

Meski banyak yang mengaitkannya dengan hal-hal gaib dan spiritual, Bung Karno sendiri dikenal sebagai sosok yang sangat rasional. Menurut istrinya Ibu Fatmawati, Bung Karno tidak pernah percaya soal-soal gaib.

RITUAL RUWATAN YANG SEBENARNYA

MENGENAL RUWATAN 
( Upacara Tradisi Jawa ) 

Ruwatan Murwakala (Murwatkala)
Ritual tradisional ini dilaksanakan dengan pergelaran Wayang Kulit dengan cerita Murwakala. Tujuannya, agar orang yang diruwat hidup selamat dan bahagia, terlepas dari nasib jelek. Dalam cerita wayang, konon Kala yang putra salah kedaden (berasal dari kama, mani, Bathara Guru yang tumpah ke laut, karena saat orgasme didorong Bathari Uma) dan menjadi raksasa jahat, memang diberi hak memangsa manusia yang termasuk kategori sukerta. Sukerta, atau Sukarta, artinya tindakan yang baik atau dicintai. Sukerta dalam cerita Murwakala adalah anak (atau anak-anak) yang sangat dicintai orangtuanya. Keselamatan dan kebahagiaannya sangat diperhatikan orang-tuanya karena mereka termasuk dalam golongan Sukerta.

Duapuluh lima (25) macam Sukerta, antara lain
1. Ontang-anting : anak laki-laki tunggal dalam keluarga, tak punya saudara kandung.
2. Unting-unting : anak perempuan tunggal dalam keluarga.
3. Gedhana-gedhini : dua anak dalam keluarga, laki-laki dan perempuan.
4. Uger-uger lawang : dua anak laki-laki dalam keluarga.
5. Kembar sepasang: dua anak perempuan dalam keluarga.
6. Pendhawa : lima anak laki-laki dalam keluarga.
7. Ngayomi : lima anak perempuan dalam keluarga.
8. Julungwangi : anak lahir pada saat matahari terbenam.
9. Pangayam-ayam : anak lahir saat tengah hari.

Termasuk juga dalam daftar Sukerta, mereka yang dianggap melakukan kesalahan karena kejadian berikut.
1. Menjatuhkan dandang, ketika menanak nasi.
2. Mematahkan gandhik, alat pemipis jamu.
Mereka yang masuk dalam daftar Sukerta harus diruwat dengan Ruwatan Murwakala supaya tidak menjadi mangsa Kala. Upacara ini dianggap sangat sakral, sehingga harus dilakukan dengan cermat.

Kisah Murwakala

Syahdan, di suatu sore yang indah, Bathara Guru dan sang istri Dewi Uma melanglang buana di antariksa (sight seeing mengelilingi jagat raya) dengan menunggang Lembu Andini. Pemandangan saat itu sungguh menakjubkan. Segalanya terlihat begitu indah. Bathara Guru pun terkesima melihat kecantikan sang Dewi. Di bawah siraman semburat jingga cahaya surya sore itu, Dewi Uma nampak begitu menawan. Paling tidak dalam pandangan Bathara Guru, sang suami tercinta. Tak pelak lagi, berahi Guru pun bangkit hingga ke ubun-ubun dan serta-merta mengajak sang istri untuk bercinta. Kendati heah heeh, sebagai istri yang sadar lingkungan, Dewi Uma mencoba menolak secara halus karena ini bukanlah saat yang tepat. Apalagi di awang-awang, tempat terbuka seperti itu. Namun apadaya, Bathara Guru yang sudah berada dalam suasana berahi memaksakan kehendaknya. Dengan sedikit menjambak rambut sang istri, terjadilah hubungan cinta tersebut. Menjelang Guru mencapai puncak, Dewi Uma mendorongnya dan melepaskan diri dari pelukan Guru yang penuh gejolak nafsu. Akibatnya, kamabuah cinta sang Guru tumpah ke dalam lautan, dan menjelma jadi raksasa besar yang dinamakan Kala. Jadi, Kala adalah satu produk yang salah, dan lantaran kesalahan itu, meskipun anak Dewa-Dewi, Kala tumbuh menjadi raksasa sangat jahat, yang selalu ingin memangsa daging manusia.
Bathara Guru ayahnya, yang pembawaannya memang agak grusa-grusu, memberi izin kepadanya untuk memangsa orang-orang sukerta. Akan tetapi, setelah dibicarakan dengan Bathara Narada, patihnya, Guru menyadari bahwa santapan untuk sang Kala akan terlalu banyak. Bathara Guru kemudian menulis sebuah mantra, lafazh, di dada Kala. Ketentuannya, siapa saja yang dapat membaca mantra tersebut oleh Kala harus dianggap sebagai ayahnya (maksudnya ayah si Kala itu, pen.), meskipun orang itu masih kanak-kanak.
Ternyata hanya sedikit orang yang mengetahui dan bisa membaca mantra di dada Kala. Kurban yang menjadi mangsa Kala masih cukup banyak. Tak kurang akal, Bathara Guru menemukan kiatnya. Lalu memutuskan turun ke dunia, menyamar sebagai dalang dengan nama Ki Dalang Kandhabuwana. Kala pun menyerah pada Ki Dalang, dan dia diperintah tinggal di hutan Krendhawahana. Kala setuju dan tunduk, tidak akan mengganggu anak-anak sukerta, yang telah diangkat anak oleh Ki Dalang. Mereka itu para sukerta yang telah menjalani Ruwatan Murwakala.
Kala memohon diberkati dengan Santi Puja Mantra, Ki Dalang pun mengabulkan lalu memandikannya dengan air dan bunga-bunga. Sebelum pergi ke hutan, Kala minta bekal sesaji berupa alat-alat pertanian dan hasil bumi, alat dapur, ternak seperti sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan sebangsanya. Masih ditambah kain panjang, beberapa jenis makanan, tikar-bantal dan selimut, yang akan dipakai selama perjalanannya menuju ke hutan. Sepeninggal Kala, Ki Dalang memerintahkan kepada Bima dan Bathara Bayu untuk mengusir semua bala tentara Kala dengan menggunakan pecut dan sapu lidi yang diikat dengan tali perak.
Menutup ritual Ruwatan Murwakala, Ki Dalang memotong rambut para sukerta dan memandikan mereka dengan air yang dicampur beberapa macam bunga.

Hikmah dari Ruwatan Murwakala

1. Menurut kisah, Kala adalah produk dari kama-salah, yaitu mani yang salah. Jadi semacam pemberitahuan bahwa hubungan seksual antara pria dan wanita, hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, pada waktu dan tempat yang layak. Dan tidak hanya menonjolkan nafsu badaniah, sehingga akan membuahkan anak yang wataknya kurang baik.
2. Bekal dan sesaji yang diminta Kala itu merupakan barang-barang kebutuhan hidup manusia, yang juga melambangkan cinta kepada Ibu Pertiwi, dengan segala hasil buminya.
Hal-hal penting dalam ritual Ruwatan
1. Dalang yang membawakan lakon Ruwatan Murwakala harus memenuhi kriteria dalang yang bijak, mumpuni dalam seni pedalangan. Secara simbolis, dia akan menjadi ayah angkat para sukerta.
2. Upacaranya harus dilakukan dengan baik, cermat dan benar. Para sukerta dan keluarganya hendaknya bisa terlibat dan menghayati dengan perasaan mendalam. Dengan demikian akan mengerti dan memahami makna kidung, berupa tembang dan mantra suci, yang dibawakan Ki Dalang. Dalam upacara ini, lazimnya para sukerta dan orangtuanya mengenakan busana tradisional Jawa. Sebelum pergelaran Wayang kulit, para sukerta mohon restu dari orangtuanya masing-masing. Selama pergelaran Wayang kulit yang akan dilanjutkan dengan ritual, pemotongan rambut dan mandi suci, para sukerta mengenakan pakaian kain putih. Secara mistis, putih menunjukkan kesucian.
3. Air suci untuk memandikan para sukerta berasal dari 7 (tujuh) sumber air.
Catatan: Sukerta yang diruwat tidak hanya anak-anak. Dapat juga orang dewasa yang dianggap melakukan kesalahan atau kelalaian berat, sehingga membuat orang lain menderita. Zaman dulu, yang dianggap kelalaian atau kesalahan berat antara lain
a. Orang yang menggulingkan dandang ketika menanak nasi.
b. Orang yang mematahkan gandhik, batu penggiling jamu.
Kata Kala, harfiah berarti waktu. Ada waktu baik dan ada waktu jelek bagi setiap orang. Bila seseorang menderita karena berbagai alasan, seperti musibah kecelakaan, sakit, berbuat salah dan seterusnya, dikatakan orang itu mengalami waktu jelek atau nahas, naas. Setiap orang akan selalu berusaha membuang sial, menghindari waktu naas, dan berusaha hidup dalam keselamatan dan kebahagiaan.
Dewasa ini, lebih-lebih dalam periode krisis multidimensi ini, banyak orang dewasa merasa tidak aman. Karena itu semakin banyak saja orang ikut dalam Ruwatan, agar tidak menjadi sasaran Kala dengan membuang nasib jelek atau sial.
Bathara Guru sebagai penguasa Jagat Raya, turun ke dunia menyamar sebagai dalang untuk memberitahu para sukerta dan orang-orang yang lain, apa yang harus dilakukan agar tidak menjadi mangsa Bathara Kala.
Nama Kandhabuwana (kandha artinya mengatakan, memberi nasihat, buwana berarti dunia), menyiratkan siapa yang menuruti nasihat Ki Dalang akan selamat dan bahagia. Itulah latar belakang ritual Ruwatan Murwakala.
Ruwatan Murwakala dapat dilakukan secara pribadi, terutama bagi kalangan mampu, atau secara bersama-sama karena biayanya cukup tinggi. Lazimnya diselenggarakan kalangan yayasan atau paguyuban pencinta budaya Jawa. Di antaranya adalah:
a. Institut Javanologi Panunggalan, Yogyakarta, setiap tahun menyelenggarakan Ruwatan Murwakala. Upacara ini tidak hanya diikuti para sukerta dari dalam negeri, tapi juga dari mancanegara (Eropa, Asia, Amerika, dsb.)
b. Institut Pudya Raja, pimpinan Prof. DR. Ki Wisnoe Wardhana, juga menyelenggarakan upacara ruwatan serupa.
Dari segi bahasa, akar kata sukerta adalah suker, atau kotor. Logikanya, sesuatu yang kotor harus dibersihkan. Dalam artian ini, manusia yang kotor harus disucikan atau diruwat. Ruwat artinya menghapus atau meniadakan kekuasaan, maksudnya menghapus atau membebaskan dari kutukan nasib jelek/sial, musibah dan malapetaka.
Beberapa contoh ritual Ruwatan
Ruwatan di Karaton Surakarta
Pada 17 Januari 1998, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Karaton Surakarta diadakan Ruwatan Murwakala. Sri Sunan Paku Buwana XII sendiri termasuk yang diruwat, bersama dengan 32 putra-putrinya dan 17 putra-putri menantu. Dalam sejarah dinasti Mataram pada abad ke XVII, Sultan Agung juga pernah diruwat ketika masih menjadi Putra Mahkota.
Upacara Ruwatan Murwakala di Karaton Surakarta dimulai jam sembilan pagi. Sebagai lambang kesucian, para sukerta mengenakan pakaian putih seperti Brahmana. Diawali dengan acara sungkeman untuk menghormat Sri Sunan di nDalem Ageng Prabasuyasa, pergelaran wayang kulit Murwakala dengan dalang senior Ki Panut Darmoko dari Nganjuk, Jawa Timur, dilangsungkan di Sasana Handrawina.
Ruwatan berjalan dengan sangat khusyuk. Seluruh keluarga istana telah bersiap diri dalam keadaan suci lahir dan batin. Semua tamu pun diwajibkan mengenakan pakaian kejawen lengkap. Hadirin mengikuti jalannya upacara dengan khidmat dan selama waktu itu tidak diperkenankan makan, minum atau merokok.
Perangkat gamelan Karaton yang bernama Kyai Manis dan Manis Rengga mengiringi pertunjukan wayang kulit. Berbagai macam sesaji digelar di sekitar layar. Rambut para Sukerta satu demi satu dipotong sedikit oleh Ki Dalang. Permandian suci dengan air bunga juga dilakukan oleh Ki Dalang. Sinuwun sendiri rambutnya dipotong dan dimandikan oleh bibinya, GRAyu Bratadiningrat, yang putri dari Sri Paku Buwana X.
Maksud Ruwatan Karaton Surakarta
Merasa sangat puas dan lega setelah menggelar upacara Ruwatan tersebut, Sinuwun berterima kasih kepada Ki Dalang Panut Darmoko yang telah melaksanakan ruwatan dengan selamat dan sempurna. Sedang Ki Dalang pun merasa mendapat kehormatan yang tinggi karena untuk pertama kalinya dipercaya melaksanakan ruwatan di Karaton. Dalang-dalang kondang lain di Solo tidak berani melakukan upacara yang istimewa dan sakral ini.
Kepada media Sinuwun berkata: Ruwatan ini diselenggarakan demi keselamatan keluarga, Karaton beserta seluruh isinya. Diharapkan, peristiwa ini akan memberi dampak yang baik kepada bangsa dan negara, yang tengah mengalami krisis ekonomi. Ruwatan ini tidak perlu dianggap sebagai sesuatu yang luar biasa, ini semata-mata pelaksanaan wangsit untuk membebaskan kita dari pengaruh sukerta yang membahayakan.

Komentar Sri Mangkunagara IX
Pemangku Pura Mangkunagaran, KGPAA Mangkunagara IX menyambut positif Ruwatan Karaton Surakarta, dan yakin ruwatan tersebut secara spiritual akan memberi dampak positif bagi banyak hal, termasuk kepada Pura Mangkunagaran dan negara ini, karena ruwatan adalah manifestasi doa dan permohonan kita kepada Tuhan Yang Mahasuci. Ruwatan Abdi Dalem Karaton Surakarta
Dalam bulan Sura banyak diadakan upacara Ruwatan. Paguyuban Abdi Dalem Karaton Surakarta cabang Prambanan, pada Sura tahun 2000 lalu juga melakukan upacara ruwatan untuk para anggotanya.
Ruwatan dipimpin oleh KRHT Kusumo Tanoyo dengan melakukan doa di depan sesaji berupa air yang dicampur beberapa bunga. Kemudian dengan khidmat dilantunkan Tembang Dandanggula, yang intinya merupakan permohonan kepada Tuhan Yang Makakuasa agar memberkahi seluruh Abdi Dalem, sehingga mereka hidup dengan selamat, bahagia dan sejahtera
Semua pengikut upacara dibersihkan dengan air suci, tidak seluruh badan melainkan hanya kepala, lalu sedikit rambut juga dipotong. Air yang telah dimantrai itu dipercaya mengandung daya supranatural kuat yang mempu mengobati segala penyakit, fisik maupun kejiwaan. Ruwatan ini tidak serumit Ruwatan Murwakala, yang kaya dengan nilai-nilai budaya, namun cukup penting untuk mempererat silaturahmi di antara para Abdi Dalem Karaton Surakarta.
Ruwatan Seniman-Seniwati Yogyakarta
Bagi para Seniman di Yogyakarta, ritual tradisional Ruwatan tetap dianggap penting dan perlu diadakan. Dipimpin dalang sepuh Ki Timbul Hadiprayitno, ruwatan yang mereka selenggarakan diikuti banyak artis terkenal. Untuk mereka, tujuan pokok ruwatan adalah supaya dapat hidup selamat, tenang dan berkecukupan. Juga untuk menunjukkan kesadaran mereka dalam melestarikan budaya tradisional.
Ruwatan Pejuang Yogyakarta
Dalam memperingati peristiwa Yogya Kembali dari agresor Belanda pada 1950, para veteran lanjut usia, bersama-sama para pejuang kemerdekaan dari generasi yang lebih muda, juga mengadakan upacara Ruwatan. Pada malam hari 29 Juni 1999, bertempat di bekas kediaman resmi Jendral Sudirman (alm.), Panglima Angkatan Perang RI pertama, 9 pejuang yang mewakili rekan-rekannya dimandikan air kembang dalam ritual yang dipimpin Ki Dalang Timbul Hadiprayitno, yang juga menyiapkan semua kebutuhan sesaji. Dengan berpakaian putih, ke-9 pejuang dengan setia mengikuti proses ritual yang berjalan khusyuk: mendengarkan kidung suci, tembang dan mantra yang dibawakan oleh Ki Dalang, lalu dimandikan air kembang dan dipotong rambutnya.
Mengapa para veteran melakukan ruwatan?
Ruwatan, demikian mereka tegaskan, adalah permohonan mereka kepada Tuhan agar hidup selamat, dan dengan berkah Tuhan mereka akan melanjutkan perjuangan mencapai tujuan asasi dari kemerdekaan, yakni masyarakat adil dan makmur di Indonesia yang berdasarkan Pancasila. Mereka berharap, ada perbaikan dalam semua aspek kehidupan. Keadilan dan kebenaran segera terwujud sehingga bisa dirasakan rakyat kecil.
Acara Ruwatan yang berakhir sesudah tengah malam itu dilanjutkan dengan pergelaran wayang kulit dengan cerita Wisanggeni Gugat hingga pagi hari. Dr. Humar Atmaja, salah seorang penyelenggara yang mewakili generasi penerus, menyatakan: Wisanggeni Gugat sesuai dengan harapan generasi muda. Wisanggeni, putra Arjuna dari Dewi Dersanala, adalah figur generasi muda yang suka bicara apa adanya, berani berjuang untuk keadilan dan kebenaran. Tidak takut kepada siapapun, termasuk para dewa dan orang-orang tua yang berbuat salah.
Mantra dalam ritual Ruwatan Murwakala
lafazh yang berdaya supranatural sangat kuat sehingga tujuan ritual tercapai. Paling tidak ada 2 (dua) mantram sakti yang dilantunkan selama Ruwatan. Diantaranya Rajah Kalacakra dan Caraka Balik.

WAYANG SEMAR GUGAT

Semar merasa sakit hati atas perlakukan Arjuna yang berani memegang dan mengelus-elus kuncungnya. Ia lalu meninggalkan Amarta dengan diikuti Bagong menuju pertapaan Wukiratawu guna mengadukan perlakuan arjuna kepada Begawan Abiyasa, Kakek Arjuna.

Mendengar pengaduan Semar, atas nama cucunya,Begawan Abiyasa meminta maaf. Tetapi semar belum puas dan pergi mengembara entah kemana.

Hal itu membuat Begawan Abiyasa Khwatir, karena ia tahu benar jika Semar meninggalkan Amarta, berarti kerajaan itu akan mendapat mara bahaya.

Semar ternyata pergi ke Jonggring Kalasa untuk melampiaskan kekesalan hatinya. Ia juga menuntut agar dikembalikan ke wujud aslinya, yang tampan dan gagah. Betara Guru dan Betara Narada berusaha menyadarkan Semar,bahwa takdir memang sudah menggariskan semar berwajah demikian.

Namuna, Semar tidak peduli dengan penjelasan Batara Guru dan Batara Narada, ia tetap bersikeras agar dikembalikan ke ujud semula. Para dewa pun berusaha membantu mengubah ujud Semar menjadi ksatria perkasa. Ia kemudian menamakan dirinya, Bambang Dewalelana, sednagkan Bagong yang juga menjadi tampan dinamakan Bambang Lengkara.

Mereka berdua kemudian turun ke dunia, menaklukan Prabu Setiwijaya dan mengambil alih Kerajaan Pudaksategal. Prabu Dewalelana kemudian memerintahkan patihnya, Dasapada mencuri Jamus Kalimasada, pusaka Amarta.

Patih Dasapada berhasil mengambil pusaka Amarta itu dan dibawa ke Pudaksategal untuk diberikan kepada Prabu Dewalelana.

Pandawa tentu kebingungan karena pusaka kerajaan hilang. Dengan petunjuk Kresna, para Pandawa lalu datang ke Pudaksategal, mohon maaf pada Dewalelana. Prabu Dewalelana kemudian mengubah ujudnya kembali menjadi Semra dan dengan senang hati Semar menyerahkan Jamus Kalimasada pada Prabu Puntadewa.

WAYANG PANDAWA TUJU

Prabu Duryudana kecewa, karena Prabu Baladewa akhir-akhir ini lebih sering menyatu dengan para Pandawa, seperti juga Prabu Kresna. Dengan demikian, pandawa bukan hanya lima tetapi menjadi tujuh (pitu-Bhs.Jawa).

Di keraton Amarta, Prabu Baladewa, Prabu Kresna dan kelima Pandawa memang sedang berkumpul. Mereka mendengarkan wejangan Bima, mengenai ilmu Kawruh Manunggal.

Penyebaran ilmu itu membuat para dewa marah, sehingga Batara Guru menugasi Batara Narada untuk memanggil BIma ke kahyangan untuk dijatuhi hukuman. Bima bersedia dihukum, namun Pandawa lainnya dan Prabu Baladewa serta Prabu Kresna setia kawan. Mereka juga ikut ke kahyangan untuk menerima hukuman.

Sementara di Kerajaan Tunggulmalaya, Batari Durga memberitahu puteranya, Dewasrani , tentang Pandadwa yang menrima hukuman di kahyangan. Ia menyuruh Dewasrani menaklukkan Amarta, agar DEwasrani dapat menjadi jagoning dewa menggantikan Arjuna. Namun, serbuan Dewasrani berhasil ditumpas para putra Pandawa.

Di Kasatrian Madukara, Dewi Subadra dan Dewi Srikandi sangat sedih dan marah karena para Pandawa akan mendapat hukuman dari dewa. Mereka lalu tiwikrama, berubah ujud menjadi brahala Badrayaksa dan Kandiyaksa. Kedua raseksi itu pergi ke kahyangan, untuk menuntut dipulangkannya para Pandawa.

Di kahyangan, Pandawa berbantah dengan Batara Guru. Karena murka, oleh Batara Guru, para Pandawa akan dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka. Semntara itu, ketika Arjuna akan masuk ke Kawah Candradimuka, semua bidadari akan ikut mencebur pula.

Pada saat itu, Badrayaksa dan Kandiyaksa telah sampai di kahyangan dan langsung mengamuk. Para dewa tak ada yang sanggup menandingi kedua raseksi itu.

Atas seizin Batara Guru, Batara Narada lalu meminta bantuan agar Pandawa menghadapi kedua brahala yang sedang mengamuk. Jika berhasil, Pandawa akan dibebaskan dari hukuman.

Bima tidak mau. Dia dan saudara-saudaranya baru akan turun ke gelanggang menghadapi dua raseksi itu, jika Pandu Dewanata dan Dewi Madrim dikeluarkan dari neraka dan dipindahkan ke sorga. Tuntutan itu dipenuhi.

Setelah para Pandawa berperang tanding dengan Badrayaksa dan Kandiyaksa,kedua brahala itu beralih ujud kembali menjadi Dewi Subadra dan Srikandi.

WAYANG BABAB WANAMARTA

Prabu Matswapati duduk di Pancaniti, dihadap oleh Seta, Untara, Wratsangka, Surata dan Patih Nirbata. Raja membicarakan rencana pemberian hutan Wanamarta kepada Pandawa. Raja mengutus Patih Nirbata supaya memberitahu kepada Bagawan Abyasa, bahwa Pandawa akan diberi tanah Wanamarta. Sang Patih segera minta diri, berangkat ke Wukir Retawu. Perundingan selesai, raja Matswapati masuk ke istana menemui permaisuri dan Untari. Raja bercerita tentang rencana pemberian tanah kepada Pandawa, kemudian raja bersemedi.

Setelah berunding dengan Seta Untara dan Wratsangka, mereka kemudian berangkat ke Wukir Retawu.

Prabu Kalasambawa, raja Nuswakambangan menerima kedatangan Patih Saramba yang memberitahu tentang keturunan Parasara yang pernah membunuh ayah raja. Patih mengusulkan agar keturunan Parasara yang sedang mendirikan Negara di Wanamarta dibunuhnya. Raja menyetujui, sang patih disuruh mengangkat utusan para ditya yang hebat. Setelah siap, mereka berangkat ke Wanamarta.

Dalam perjalanan, barisan raksasa Nuswakambangan bertemu dengan barisan Wiratha. Pertempuran tidak dapat dihindarkan, masing-masing menyimpang jalan.

Bagawan Abyasa dihadap oleh Yudisthira, Arjuna, Nakula dan Sadewa. Sang Bagawan membicarakan Bima yang akan membuka hutan Wanamarta. Arjuna disuruh untuk membantu kakaknya. Arjuna minta diri dengan diikuti oleh Punokawan.

Sepeninggal Arjuna dari Wukir Retawu, datanglah Patih Nirbita dan Seta. Mereka berdua menyampaikan rencana raja Wirata yang akan memberi hutan Wanamarta kepada Pandawa. Kabar itu pun disambut baik oleh pihak Pandawa. Patih Nirbita dan Seta pun segera minta diri setelah menyampaikan kabar dari rajanya.

Sementara, di tengah perjalanan, Arjuna dihadang oleh barisan raksasa. Terjadilah perkelahian diantara mereka, yang akhirnya dimenangkan oleh Arjuna. Para raksasa itu mati di tangan Arjuna.

Kombang Aliali yang tinggal di Randu Gumbala mendapat ilham supaya bersekutu dengan Arjuna. Ia bersama raja raksasa masuk hutan Wanamarta.

Ketika bertemu dengan Bima, terjadi perselihan antara raja raksasa dengan Bima. Hampir saja Bima membunuh raja raksasa tersebut, namun tiba-tiba raja raksasa itu  musnah kemudian bersatu dengan Bima.

Sementara, Arjuna dikeroyok oleh jin anak-anak Kombang Aliali. Jin berhasil diusir oleh Arjuna. Datanglah Kombang Aliali yang ingin bersatu dengan Arjuna. Namun Arjuna menolak niat Kombang Aliali.

Sang Hyang Narada pun datang, Kombang Aliali disuruh merasuk kepada Arjuna. Setelah dirasuki Kombang Aliali, Arjuna bertambah sakti. Sang Hyang Narada kemudian meminta kepada Arjuna agar mau menggunakan nama Kombang Aliali.

Partawati anak Prabu Partakusuma raja Cintakapura menceritakan mimpinya kepada ayahnya. Ia bermimpi kawin dengan Arjuna, ia pun meminta dicarikan kesatria bernama Arjuna itu. Prabu Partakusuma menyanggupi keinginan puterinya.

Prabu Partakusuma berjumpa dengan Arjuna yang diikuti oleh Punakwan. Raja jin itu meminta agar Arjuna bersedia diambil menjadi menantunya. Arjuna marah, dengan geram mengusir raja jin itu. Namun, akhirnya raja jin itu berhasil memboyong Arjuna, lalu dipertemukan dengan puterinya, Partawati. Arjuna pun tertarik dengan Partawati dan bersedua memperistri Partawati.

Setelah puterinya diperistri oleh Arjuna, Prabu Partakusuma ingin melihat keris Pulanggeni, pusaka milik Arjuna. Arjuna pun memberikan pusaka nya itu kepada mertuanya. Namun, keris itu ternyata digunakan Prabu Partakusuma untuk bunuh diri, seketika ia musnah dan bersatu dengan Arjuna. Sejak saat itu, Arjuna menggunakan nama sebutan Parta.

Prabu Matswapati dihadap Seta, Untara dan Wratsangka sedang membicarakan Negara Ngamarta yang telah selesai dibangun oleh Pandawa. Sang raja berniat berkunjung ke Ngamarta.

Sementara, Prabu Kalasamba menanti kedatangan utusan yang disuruh ke hutan Wanamarta. Tiba-tiba Togog datang, memberitahu tentang kematian para utusan. Sang raja marah, kemudian pergi menyerang Ngamarta bersama prajuritnya.

Begawan Abyasa datang ke Ngamarta, Raja Matswapati pun tiba di Ngamarta. Warga Pandawa dan Wirata lengkap berkumpul di Ngamarta. Prabu Matswapati mewisuda Yudhistira menjadi raja di Ngamarta.

Patih Nirbita datang, memberitahu bahwa ada musuh datang menyerang kerajaan Ngamarta. Bima dan Arjuna pun ditugaskan melawan kedatangan musuh. Raja Kalasambawa dan perajurit raksasa musnah karena amukan Bima dan Arjuna. Kerajaan Ngamarta telah aman dan tenteram.

MANUSIA SABAR DAN ADIL

Yudhistira Lambang Manusia Sabar dan Adil

Orangnya pendiam dan tak  banyak bicara. Ia sabar, jujur dan adil serta pasrah dalam menghadapi cobaan hidup. Dialah Yudhistira putera pertama Pandudewanata dengan Dewi Kunti. Dia adalah sulung Pandawa.

Karena jujur dan sabar harus disertai kesumerahan, maka ia mampu memenjarakan nafsu. Kesabaran dan keadilannya tercermin dalam sikapnya dalam suatu kisah ketika Pandawa menjalani masa pengasingan selama 13 tahun.

Ketika itu Pandawa sedang berada di hutan Kamiaka.

“Hemm, sampai kapan derita ini akan berakhir, Si Duryudana itu semakin besar kepala,” geram Bima.

“Baru tujuh tahun Sena, tinggal enam tahun lagi,Sabarlah dik.” Hibur Yudhistira.

“Kalau saja aku diberi ijin Kakang, sekarang juga aku gedor di laknat itu,” Jawab bima penuh nafsu.

“Tulisan neraca Maha Agung tak dapat diubah lagi. Andaipun kita bertindak, tetapi tidak akan merubah nasib kita dik. Malapetaka ini harus kita jadikan pelajaran untuk memperkuat jiwa dan pikiran agar siap menghadapi segala tantangan hidup,” terang Yudhistira.

Kesabaran dan kesumerahan Yudhistira membuat adik-adiknya tunduk tak berani membantah lagi.

Suatu hari, musibah menimpa keluarga Pandawa. Arjuna, Nakula dan Sadewa ditemukan ajal setelah minum air kolam di tengah hutan itu.

Dengan perasaan sedih, Yudhistira berkata,” Duh Dewata, siapa yang tega mencabut nyawa adik-adikku. Habislah harapanku untuk merebut negeri Astina. Dinda Arjuna, kaulah andalan kami tapi kini kau telah pergi untuk selama-lamanya. Apa dayaku,” ratapnya.

Tak lam kemudian terdengar suara tanpa rupa, “ Mereka mati karena minum air kolam. Peringatanku tidak dihiraukan oleh mereka.”

“Siapakah tuan?” Tanya Yudhistira. “ Aku penunggu kolam ini. Saudaramu tak menghiraukan peringatanku untuk tidak minum air itu,” jawabnya.

“Hamba mohon maaf atas kelancangan adik-adik hamba. Jika memang kematiannya sudah kehendak Hyang Pinasti, hamba relakan. Tetapi jika kematiannya belum waktunya, sudi kiranya tuan menolong menghidupkannya kembali,” pintanya.

“Aku bersedia menghidupkan salah seorang diantara mereka, asal kau bersedia menjawab beberapa pertanyaanku,” kata suara itu.

“Hamba akan menurut kehendak tuan, Silahkan tuan bertanya barangkali hamba dapat menjawabnya,” “Baik, dengarkan. Pertanyaan pertama: Siapa musuh yang paling gagah suka membunuh tapi sukar dilawan?”

“Menurut hamba musuh yang paling gagah adalah hawa nafsu yang bersemayam di dalam diri sendiri. Ia suka membunuh apabila diperturutkan keinginannya. Ia sukar dilawan jika iman kita lemah,” jawab Yudhistira.

“Jawabanmu benar. Sekarang pertanyaan kedua: Yang bagaimana orang yang baik itu dan bagaimana orang yang buruk itu?”

“Menurut hamba orang yang baik adalah orang yang berbudi luhur mau menolong yang susah dan kasih sayang terhadap sesama. Sedangkan orang yang buruk adalah orang yang tak menaruh belas kasih dan tak berperikemanusiaan.”

“Benar, sekarang apakah yang tinggi ilmu itu orang yang pandai membaca kitab atau ngaji, atau orang alim atau karena keturunan?”

“Menurut hamba orang yang berilmu tinggi bukan karena ia pintar ngaji. Sebab meskipun pintar ngaji, ilmunya tinggi tetapi kalau pikirannya takabur suka ingkar janji, dia bukan orang alim dan bukan pula orang baik,” jawabnya.

“Jawabanmu semua benar. Sekarang pilih salah seorang mana yang harus aku hidupkan kembali,” kata suara itu.

Yudhistira tampak bingung siapa yang harus ia pilih. Menurut kata hati Arjuna lah pilihannya. Selain satu ibu, dia menjadi andalan jika ada kerusuhan. Tapi pilihan itu segera hilang dari ingatannya, manakala pertimbangan rasa tertuju kepada si kembar yang sudah tidak beribu. Jikalau memilih Arjuna, selain akan sedih arwahnya, juga sangat tak adil. Maka akhirnya pilihan jatuh kepada Nakula yang segera ia sampaikan kepada si penunggu kolam.

“Hamba memilih Nakula, tuan.” “Mengapa engkau memilih Nakula. Bukankah Arjuna lebih penting untuk tenaga andalanmu, lagi pula seibu?” tanya suara itu.

“Bagi hamba bukan soal penting atau tidaknya, tetapi keadilannya. Dengan memilih Nakula, maka kedua ibu hamba akan sama-sama merasa senang. Dari ibu Kunti kehilangan Arjuna, sedangkan dari ibu Madrim kehilangan Sadewa. Bukankah pilihan itu cukup adil,” jawab Yudhistira.

“Benar-benar engkau kekasih Yang Manon. Kau manusia berbudi luhur, sabar dan cinta keadilan. Tapi mengapa engkau lebih berat kepada adil dari pada kasih sayang?” tanyanya lagi.

“Sebab adil harus jauh dari sifat serakah. Jika hanya kasih atau sayang saja, maka ia akan menyalahkan yang benar membenarkan yang salah. Yang buruk seperti bagus, yang kotor seperti bersih, yang dilihat hanya bagusnya saja. Wataknya masih suka menghilangkan kebenaran mengaburkan penglihatan,” Yudhistira menegaskan pendiriannya.

Suara itu tak muncul lagi, tiba-tiba datanglah Batara Darma, dewa keadilan, di hadapan Yudhistira seraya bersabda: “Anakku, engkau benar benar mustikaning manusia. Sebagai imbalannya ketiga saudaramu akan kuhidupkan kembali,” tukasnya, yang tak lain adalah suara yang tanpa rupa tadi.

Betapa senang hati Yudhistira dapat berkumpul kembali dengan adik-adiknya. Kemudian mereka melanjutkan pengembaraannya menyusuri hutan-hutan belantara dengan tabah dan tawakal.

PRIA SEMPURNA

Bathara Kamajaya Lambang Pria Sempurna

Bathara Kamajaya adalah putera Sanghyang Ismaya dengan Dewi Sanggani, puteri Sanghyang Wenang yang kesembilan. Bathara Kamajaya dikenal berwajah tampan dan sempurna.

Bathara Kamajaya menjadi lambang laki-laki yang sempurna di kahyangan, seperti halnya Arjuna yang menjadi kesempurnaan lelaki di dunia.

Bathara Kamajaya berkedudukan di kahyangan Cakrakembang, permaisurinya bernama Dewi Ratih, puteri Bathara Soma.

Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih sering menjadi lambang kerukunan suami-istri karena mereka sangat rukun, tidak pernah bertengkar, saling percaya dan saling mencintai.

Bathara Kamajaya sangat sayang dengan Arjuna, dan selalu bersedia membela dan membantu Arjuna. Dalam lakon Cekel Indralaya, Bathara Kamajaya menjaga kesucian Dewi Wara Sumbadra, karena Arjuna sedang menjalani tapa brata di padhepokan Banjarmelati.

Dengan tidak adanya Arjuna di samping Dewi Wara Sumbadra, dimanfaatkan oleh para Korawa untuk menggoda istri Arjuna tersebut yang tinggal di Banoncinawi.

Dalam lakon Partadewa saat Pandawa murca dan Arjuna sedang bertakhta di kahyangan Batahara Indra, Bathara Kamajaya membela kerajaan Amarta dari penguasaan Korawa.

Bathara Kamajaya dan Dewi Ratih sangat dikenal terutama di tanah Jawa. Sehingga jika ada seorang calon ibu yang mengandung bayi pertamanya, dalam acara tujuh bulanan atau “mitoni” ada syarat berupa buah kelapa gadhing yang masih muda atau cengkir gading yang digambari bathara Kamajaya dan Dewi Ratih.

Harapannya, jika nanti bayi yang lahir adalah laki-laki bisa memiliki wajah yang tampan seperti Bathara Kamajaya dan jika lahir perempuan bisa memiliki wajah dan watak yang cantik seperti Dewi Ratih.

Bathara Kamajaya memiliki pusaka berupa panah Cakrakembang, yaitu panah yang wujudnya seperti Bungan Pancawisaya.

Dalam lakon Cakrakembang, Bathara Kamajaya dapat tugas untuk membangunkan Bathara Guru yang sedang bertapa karena Kahyangan saat itu diserang wadyabala raksasa Kala Nilarurdaka yang membuat kerusuhan dan kerusakan di Suralaya.

Dengan panah sakti Kemayan Bunga Pancawisaya, Bathara Kamajaya berhasil membangunkan Bathara Guru.

Bathara Kamajaya sering turun ke Arcapada untuk membantu Arjuna dan memberikan petunjuk pada Arjuna saat satria Pandawa sedang menghadapi masalah.

Saat turun ke bumi, bathara Kamajaya menyamar menjadi raksasa hutan yang diiringi permaisurinya yang berwujud raseksi. Namun terkadang, Bathara kamajaya beralih wujud menjadi macan kumbang (harimau kumbang).

Dalam lakon partadewa, saat Arjuna menjadi raja untuk para bidadari di kahyangan Tinjamaya, bergelar Prabu Kiritin,  membuat praja Amarta tidak ada yang memimpin.

Dengan bertakhtanya Arjuna di kahyangan Tinjamaya menyebabkan Puntadewa, Werkudara, Nakula dan Sadewa meninggalkan keraton Amarta untuk mencari Arjuna.

Melihat kerajaan Amarta tidak ada yang memimpin, Bathara Kamajaya tidak tega, akibatnya Bathara Kamajaya turun ke Bumi dan menduduki takhta kerajaan Amarta, memimpin Amarta dan bergelar Prabu Partadewa. Tujuannya hanya ingin menjaga Amarta agar tidak dikuasai  oleh para Korawa.

Setelah Puntadewa, Werkudara, Nakula dan Sadewa berhasil menemukan Arjuna dan semua sudah kembali lagi ke Amarta, Bathara Kamajaya kemudian menyerahkan kerajaan kepada Prabu Puntadewa kembali.

JANGGAN SMARASANTA

Ketika Syang Hyang Ismaya dipertintah oleh ayahnya,  Sang Hyang Tunggal untuk turun ke dunia guna menjadi pamong ksatria berbudi luhur, ia mulanya menggunakan nama Janggan Smarasanta. Ia berkelana sendiri untuk mencari manusia berbudi luhur itu. Namun lama-lama ia merasa kesepian, karena tak seorang pun yang menemaninya. Karena  itu Janggan Smarasanta memohon kepada Sang Hyang Tunggal agar diberi kawan dalam perjalanannya untuk menemukan ksatria berbudi luhur itu.

Maka Sang Hyang Tunggal pun berkata, “ Selama ini kamu sudah disertai kawanmu yang setia, yakni bayanganmu.”

Seketika, bayangan Semar menjelma menjadi sesosok makhluk yang amat mirip dengan dirinya, tetapi lebih kecil. Janggan Smarasanta memberi nama Bagong, dan diakuinya sebagai anak.

Mereka berdua lalu meneruskan perjalanan. Tak lama, di sebuah telaga, mereka melihat dua orang ksatria tampan yang sedang berkelahi dengan seru.

Janggan Smarasanta kemudian bertanya kepada dua ksatria itu, mengapa mereka berperang tanding. Keduanya pun menjelaskan bahwa masing-masing bernama Bambang Sukadadi dari Padepokan Bluluktiba dan Bambang Presupanyukilan dari Padepokan Kembangsore.

Keduanya adalah ksatria yang amat tampan dan gagah. Kegemarannya sama, yaitu berkelana dari satu kerjaan ke kerajaan lainnya, dari satu hutan ke rimba yang lain. Suatu saat kedua ksatria itu bertemu.Karena masing-masing merasa dirinya paling tampan, mereka pun berkelahi.Ternyata keduanya juga memiliki kesaktian yang sama. Akibatnya, perkelahian itu berlangsung selama berhari-hari, tanpa ada yang kalah dan menang.

Perkelahian itu baru bisa dihentikan setelah Janggan Smarasanta datang melerai. Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan sepakat memilih Smarasantana sebagai hakim yang menentukan siapa yang sebenarnya  palng tampan diantara keduanya.

Janggan Smarasanta menjawab, tidak ada satu pun dari keduanya yang tampan. Keduanya kemudian disuruh bercermin di telaga.

Betapa kagetnya mereka berdua, begitu melihat wajah mereka yang telah berubah menjadi aneh. Kedua ksatria itu pun menyesali perubahan ujud mereka, tetapi Smarasanta segera menghibur, bahwa yang penting bukan ketampanan dan kesaktian seseorang, melainkan bagaimana pengabdiannya pada sesama.

Karena kagum pada kebijaksanaan Smarasanta, Bambang Sukadadi dan Bambang Precupanyukilan  meminta agar Smarasanta bersedia diaku sebagai bapak mereka.

Mereka berjanji akan mengikuti kemanapun Smarasanta pergi. Smarasanta setuju, lalu mengganti nama keduanya menjadi Nala Gareng dan Petruk.

Mereka berempat, Janggan Smarasanta yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan Ki Lurah Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong, lalu berkelana bersama untuk mengabdi pada ksatria yang berbudi luhur.

TIGA SATRIA PANAH

Arjuna merasa keberatan kalau harus bersaing dengan Suryaputra, karena Suryaputera memiliki kemampuan yang sama dengannya dalam ilmu memanah. Arjuna menolak bertanding dengan Suryaputra, dengan alasan karena Suryaputra bukan seorang satria. Ia seorang rakyat biasa, anak kusir Adirata, yang mempunyai tingkatan hanya seorang pembantu.

Alasan ini menjadikan Suryaputra dendam kepada Arjuna. Duryudana yang melihat kemampuan Suryaputra akhirnya mengangkat derajat Suryaputra menjadi saudara dari Kurawa. Duryudana memberikan pakaian seorang satria dan menganggap Suryaputra sebagai saudara. Menjadi saudara Kurawa, berarti juga masih saudara Pandawa. Namun, Arjuna tetap tidak mau bertanding dengan Suryaputra karena bagaimana juga ia tetap seorang sudra.

Arjuna melayangkan sebuah panah ke sebuah papan sasaran panah. Suryaputra secara diam-diam pun melayangkan sebuah panah. Panah Arjuna dan Suryaputra melayang beriringan bersana. Panah Arjuna menancap lebih dahulu di lingkaran angka 100. Sedangkan panah Suryaputra membelah panah Arjuna dan menancap di angka 100 pula.

Melihat panahnya terbelah dua, Arjuna menjadi marah dan tidak mengakui panah Suryaputra. Suryaputra tidak layak berdiri di tempat pendadaran.

Pandita Durna yang lebih mecintai Arjuna, memilih untuk mempersilakan Suryaputra keluar. Karena pendadaran ini khusus untuk keluarga Pandawa dan Kurawa. Jadi walaupun Suryaputra sudah menjadi seorang ksatria, tetap tidak diperbolehkan mengikuti pendadaran. Suryaputra semakin kecewa dan dendam dengan Arjuna.

Mulai saat itu, Suryaputra tidak pernah mengikuti pendadaran lagi. Ia lebih memilih belajar kanuragan ditempatnya sendiri, yaitu di Kadiratan.
Batara Surya sang ayahanda pun mendatanginya. Bathara Surya menyamar menjadi seorang pendita dan mengjarkan kanuragan pada Suryaputra. Sang pendita memberitahukan riwayat Suryaputra yang sebenarnya. Suryaputra menangis di pangkuan sang Begawan.

Begawan memberitahu bahwa Suryaputra adalah putera Batara Surya dan Dewi Kunti. Suryaputra dibuang oleh ayah Dewi Kunti, karena bayi Suryaputra dianggap aib bagi keluarga Mandura. Namun Bathara Surya menenangkannya bahwa ia akan selalu menjaganya.

Sejak dalam kandungan ibunya, Dewi Kunti, Bathara Surya telah memberikan pelindung berupa baju tamsir yang menempel dan telah bersatu dengan kulit Suryaputra. Tidak ada satu pusaka pun yang akan mampu melukai dirinya. Semu pusaka akan terpental kembali kepada pemiliknya.

Begawan juga memberitahu bahwa ibunya, Dewi Kunti memberi nama Karna. Sedangkan ayahnya, Batara Surya member nama dia, Suryaputra atau Suryatmaja. Dan sudah menjadi jangka dewa, bahwa pada perang besar nanti, Suryaputra akan berhadapan dengan Arjuna.

Setelah Suryaputra menghilang dari tempat pendadaran, Arjuna pun merasa menjadi satria lanang jagad, tidak ada lagi pesaing yang akan mengganggunya.

Sebenarnya, Arjuna masih mempunyai seorang pesaing lagi, yaitu Prabu Palgunadi, yang juga mahir dalam memanah. Walaupun ia tidak berguru pada Pandita Durna, namun cara memanahnya betul-betul sangat akurat. Arjuna merasa tersaingi, ia pun ingin bertemu dengan Palgunadi untuk menjajal kemampuan memanah Palgunadi.

Arjuna mendengar kabar bahwa Prabu Palgunadi akan pergi ke Sokalima untuk berguru pada Pandita Durna. Arjuna merasa cemburu pada Palgunadi, ia khawatir gurunya akan lebih menyayangi Palgunadi dibanding dirinya.

Arjuna pun memutuskan untuk pergi ke Sokalima. Dalam perjalanannya menuju Sokalima, Arjuna bertemu dengan rombongan Dewi Anggraini yang bermaksud menyusul suaminya, Prabu Palgunadi ke Sokalima. Melihat kecantikan Dewi Anggraini, Arjuna pun jatuh cinta kepada istri Prabu Palgunadi itu.

Namun, Dewi Anggraini tidak menanggapi cinta Arjuna. Arjuna terus berusaha merayu dan memaksa Dewi Anggraini, namun sang dewi tetap pada pendiriannya. Melihat Arjuna berlaku demikian, Aswatama, putera Pandita Durna yang kebtulan lewat disitu, segera menyerang Arjuna. Arjuna menjadi marah dan terjadilah perkelahian antara keduanya. Dewi Anggraini memerintahkan agar para pengawalnya mempercepat perjalanannya.

Akhirnya, rombongan Dewi Anggraini sampai di Sokalima. Tidak  lama, Arjuna juga sampai di Sokalima. Dewi Anggraini melaporkan kejadian yang baru dialaminya pada suaminya, Prabu Palgunadi yang saat itu sedang menghadap Pandita Durna untuk minta belajar memanah. Namun Pandita Durna belum memberikan kesanggupannya. Begitu mendengar laporan istrinya, Prabu Palgunadi menjadi marah.

Arjuna memberla diri, ia berkilah bahwa ia tidak akan tega melakukan perbuatan itu. Aswatama pun datang member kesaksian, bahwa apa yang dikatakan oleh Dewi Anggraini benar adanya. Arjuna menyangkal kesaksian Aswatama.

Prabu Palgunadi lebih percaya dengan istirinya dan kesaksian Aswatama. Ia sangat marah kepada Arjuna. Terjadilah perkelahian antara kedanya. Mereka saling mengeluarkan kemahiran ilmu memanah masing-masing.

Serangan panah Arjuna dapat dipatahkan oleh palgunadi. Arjuna semakin marah, ia pun membabi buta dengan panahnya yang akurat. Namun semua panah Arjuna dapat dikembalikan oleh Palgunadi.

Arjuna nampak kewalahan menghadapi Palgunadi, maka ia yang juga bernama Palguna menanggalkan panahnya. Arjuna menyerang dengan tangan kosong. Palgunadi pun melayani serangan Arjuna. Kini merka bertarung tanpa senjata.

Tanpa senjata, kekuatan mereka pun begitu seimbang. Tiba tiba Arjuna menangkap dan berusaha merebut cincin Mustika Ampal yang dipakai pada ibu jari tangan kanan Prabu Palgunadi.Namun cincin pada ibu jarinya telah menyatu menjadi satu, sehingga ketika cincin itu dicabut, maka Ibu jari Palgunadi ikut terlepas dari tangan kanan Palgunadi. Dan tidak diduga sebelumnya, Prabu Palgunadi tewas seketika.

Cincin Mustika Ampal itu merupakan hidup matinya Prabu Palgunadi. Jari bercincin Mustika Ampal Prabu Palgunadi yang terambil oleh Arjuna, tiba tiba lengket dan menyatu dengan jari jari Arjuna . Sehingga Arjuna tangan kanannya memiliki 6 jari.

Melihat kematian suaminya, Anggraeni melarikan diri. Aswatama mencoba melindungi Dewi Anggraeni dari kejaran Arjuna.  Tetapi Aswatama dengan mudah dikalahkan Arjuna. Pandita Durna meminta Arjuna agar sadar atas perbuatannya, namun Arjuna seolah olah tidak mendengar kata kata Gurunya.

Arjuna merasa mendapatkan kesempatan untuk mempersunting Dewi Anggraeni menjadi istrinya. Ia terus mengejar Dewi Anggraeni hingga akhirnya langkah Dewi Anggaini terhenti, ketika jalan yang akan dilewati, berupa jurang dan tidak ada jalan lain. Akhirnya Dewi Anggraeni lebih memilih terjun kedalam jurang yang dalam daripada ia harus menikah dengan Arjuna. Dewi Anggraeni pun tewas.

Sukma Dewi Anggraeni sampai di Kahyangan Jonggringsaloka. Ia disambut sukma Prabu Palgunadi, suaminya. Mereka berdua memasuki Swargaloka.

Meskipun Dewi Anggraini sudah meninggal, Arjuna terus mengejar sukma Dewi Anggraeni yang akan memasuki Kahyangan Jonggringsaloka.

Batara Narada merasa heran,ketika Arjuna datang menemuinya dan minta agar Dewi Anggraeni di kembalikan pada Arjuna. Arjuna ingin menikahinya, karena Arjuna sangat mencintainya. Batara Narada sebenarnya keberatan. tetapi untuk mengelabuhi Arjuna, maka diciptakannya Dewi Anggraeni dari daun Tunjung.

Arjuna merasa bahagia bisa bersanding dengan Dewi Anggraeni. Mereka berdua turun ke marcapada. Namun sesampai di Arcapada Dewi Anggraeni berubah menjadi daun tunjung. Arjuna pun marah,ia ingin kembali ke Kahyangan. Datanglah Prabu Kresna, mencegah keinginan Arjuna untuk kembali ke Kahyangan. Prabu Kresna mengingatkan kalau semua yang terjadi ini sudah kehendak dewa.

KARNA TANDING

Prabu Matswapati, Prabu Puntadewa, Prabu Kresna dihadap oleh BIma, Arjuna, Nakula, Sadewa, Drestajumna dan Setyaki. Mereka masih bersedih dengan gugurnya Gatotkaca oleh enjata Kunta milik Adipati Karna.

Prabu Matswapati menasihati keluarga Pandawa agar mereka tidak terlalu larut dalam keedihan, sebab Bharatayudha belum selesai. Selanjutnya, yang harus dipikirkan adalah menetapkan siapa yang akan diangkat menjadi senopati perang Pandawa menghadapi Adipati Karna besok. Prabu Kresna kemudian mengusulkan Arjuna sebagai senopati perang Pandawa menggantikan Gatotkaca.

Arjuna pun menerima pengangkatannya sebagai senapati perang dan tetap akan menggunakan gelar perang Garuda Nglayang dengan senopati pendamping Bima dan Drestajumna.

Dewi Drupadi menyambut kedatangan Prabu Puntadewa, ia menanyakan apa hasil pertemuan hari itu kepada suaminya. Prabu Puntadewa menjawab, keluarga Pandawa telah menetapkan Arjuna sebagai senopati perang menggantikan Gatotkaca yang telah gugur di tangan Adipati Karna. Mereka kemudian masuk ke sanggar pemujaan untuk memohon anugerah Dewata agar keluarga Pandawa menang dalam perang Bharatayudha.

Sadewa mengadakan pertemuan dengan Setyaki, Udawa dan Pragota. Sadewa meminta agar mereka tetap meningkatkan kewaspadaan, sebab mendekati saat-saat yang menentukan dalam perang Bharatayudha. Tidak menutup kemungkinan lawan menggunakan cara-cara yang tidak baik untuk bisa memenangkan peperangan.

Prabu Ajibanjaran mengadakan pertemuan dengan patih Kalagupita dan para punggawa lainnya. Prabu Ajibanjaran mengemukakan niatnya untuk membantu pihak Kurawa, sebagai balas dendam atas kematian saudara seperguruannya, Dursala, putera Dursasana yang mati dalam peperangan melawan Gatotkaca.

Prabu Ajibanjaran kemudian memerintakan patih Kalagupita untuk mengerahkan pasukan Goabarong menyerang perkemahan Pandawa di malam hari, karena baginya, pihaknya tidak terikat dengan aturan peperangan.

Malam hari itu, pasukan Goabarong menyerang perkemahan Pandawa. Setyaki, Udawa dan Pragotha maku untuk menghadapi prajurit Goabarong yang dipimpin patih Kalagupita. Namun pasukan Goabarong banyak yang mati, sehingga mereka memutuskan untuk mundur.

Prabu Biswarna yang dihadap oleh Patih Tribasata dan para punggawa lainnya, mengungkapkan penyesalannya karena baru sekarang ia mendengar kabar bahwa perang Bharatayudha antara Pandawa dan kurawa telah berlangsung lama di Kurukhsetra. Ia berniat untuk membatu Pandawa. Prabu Biswarna kemudian memerintahkan patih Tribasata menyiapkan prajurit untuk menyertainya ke Kurukhsetra bergabung dengan Pandawa.

Prabu Duryadana,Prabu Salya dihadap patih Sengkuni dan Adipati Karna. Prabu Salya berusaha menghibur Prabu Duryudana yang masih larut dalam kesedihan akibat gugurnya Dursasana dan Wikataboma serta beberapa anak-anak Kurawa lainnya.

Namun Kurawa cukup sedikit lega, karena dengan kematian Gatotkaca, maka kekuatan Pandawa mengalami kerugian yang cukup besar. Pada kesempatan itu, Prabu Duryudana juga menanyakakan mengapa Adipati Karna membuang kesempatan untuk membunuh Bima. Padahal dengan matinya Bima, berarti mati semua keluarga Pandawa sesuai sumpah mereka.

Adipati Karna menjelaskan, bahwa sebagai satria apalagi Senapati perang, ia harus taat pada peraturan perang. Saat itu ia tidak langsung membunuh BIma, karena ia telah mendengar suara sangkakala tanda perang selesai. Namun Adipati Karna berjanji akan menghabisi keluarga Pandawa dalam peperangan berikutnya.

Adipati Karna memanggil patihnya, Adimanggala, dan menyuruhnya kembali ke Awangga mememui Dewi Surtikanti  untuk memintakan sedah (sirih) sebagai bekal dalam peperangan melawan Arjuna besok.

Dewi Surtikanti menerima kedatangan Adimanggala yang menyampaikan pesan Adipati Karna. Namun celakan, Adimanggala salah ucap. Seharusnya ia mengucapkan,  "Adipati Karna minta sedah (sirih)" tapi yang terucap "Adipati Karna minta pejah (mati)". Akibatnya, Dewi Surtikanti mengira Adipati Karna suaminya telah gugur di medan perang, tanpa pikir panjang lagi langsung bela pati, bunuh diri dengan menancapkan keris pusakanya ke dalam perutnya. Kejadian itu mengejutkan Adimanggala yang segera kembali ke Astina menemui Adipati Karna.

Adimanggala langsung menemui Adipati Karna dan menceritakan kejadian yang menimpa Dewi Surtikanti. Adipati Karna yang marah dan menganggap kematian istrinya akibat kesalahan Adimanggala. Ia langsung  menghunus keris Kiai Jalak dan menancapkan langsung ke perut Adimanggala yang mati seketika.

Di kahyangan, Batara Guru dihadap Bathara narada, Indra, Yamadipati dan dewa lainnya. Mereka sedang membicarakan kedua satria tangguh kesayangan dewa yang akan bertarung di padang Kurukhsetra.

Batara Guru kemudian memerintahkan Batara Narada untuk memerintah  para dewa dan bidadari menyaksikan pertandingan kedua satria tersebut sambil membawa air setaman dan bunga-bunga sorga untuk pengormatan mereka yang gugur.

Prabu Biswarna yang akan menuju perkemahan Pandawa bertemu dengan Adipati Karna. Terjadi peperangan yang berakhir dengan tewasnya Prabu Biswarna.

Keesokan harinya, peperangan antara pasukan Kurawa dan pasukan Pandawa dilanjutkan. Puncaknya, Adipati Karna yang naik kereta perang dengan sais Prabu Salya, berhadapan dengan Arjuna yang naik kereta perang dengan sais Prabu Kresna.

Perang antara keduanya berlangsung seru dan lama. Keduanya salaing mengeluarkan ilmu andalannya masing-masing. Adipati Karna mengeluarkan Aji Kalakupa, maka muncullah raksasa ganas yang langsung menyerang Arjuna. Arjuna menghadapinya dengan Aji Mayabumi, sehingga raksasa itu menjadi lemas tak bertenaga.
Adipati Karna mengeluarkan aji Naracabala, arjuna membalasnya dengan Aji Tunggengmaya, yang meluluhkan semua daya kekuatan Aji Naracahala.

Akhirnya, Adipati Karna mengeluarkan panah Wijayacapa yang diimbangi Arjuna dengan panah Pasopati. Keadaan menjadi semakin seru dan menegangkan. Mereka yang menyaksikan pertarungan dua saudara kandung itu hampir tidak bisa membedakan antara keduanya. Karena mereka memang memiliki sangat mirip.

Keadaan menjadi sangat tegang karena baik Adipati Karna maupun Arjuna telah siap untuk membunuh lawannya. Pada saat itu, Adipati Karna sudah siap melepaskan anak panahnya, namun tiba-tiba kereta perangnya terperosok, sehingga panahnya meleset dari sasaran dan hanya menyerempet mahkota Arjuna. Pada saat yang menentukan itu, berlakulah kutukan Resi Parasurama terhadap Adipati Karna. Adipati Karna mendadak lupa dengan bacaan mantranya dan bersamaan dengan lepasnya panah  pasopati Arjuna yang melesat cepat, tepat menebas putus leher Adipati Karna. Gugurlah Senapati perang Kurawa.

Prabu Matswapati, Prabu Puntadewa, Prabu Kresna dihadap keluarga Pandawa serta Dewi Drupadi. Prabu Puntadewa mengemukakan rasa duka citanya atas gugurnya Adipati Karna, Karena meski ia berperang untuk Kurawa, namun ia masih saudara tua Pandawa. Prabu Matswapati kemudian mengajak mereka semua untuk berdoa bersama, memohon kepada Dewata agar kejayaan selalu menyertai keluarga Pandawa.

SRIKANDI DAUP

Negara Pancala dipenuhi oleh kadang Pandawa, pasalnya Pancala atau Cempala mengadakan sayembara untuk mendapatkan jodoh untuk Srikandi. Siapa saja yang sanggup membuat atau memperbaiki taman Mowokoco akan dinikahkan dengan Dewi Srikandi.

Pandawa tahu bahwa Arjuna menginginkan bisa bersanding dengan Srikandi, yang tak lain adalah adik dari istri pertamanya, Sembadra. Namun ternyata, Larasati, istri kedua Arjuna cemburu karena hal ini.

Sebenarnya, Larasati disuruh oleh Sembadra untuk menguji Srikandi dalam olah keprigelan. Ternyata kemampuan Srikandi dan Larasati sama dan sebanding. Karena tidak menginginkan hal itu terus berlanjut, maka dibuatlah sayembara tersebut.

Sayembara itu rupanya membuat kerajaan Ceti mengirimkan dutanya. Duta tersebut berwujud raksasa datang ke paseban agung dan menyatakan ingin melamar Srikandi. Belum sempat raja Drupada sudah ditengahi oleh Drestajumna saudara Srikandi. Drestajumna menantang duta kerajaan Ceti tersebut agar mengurungkan niatnya.

Sang duta marah dan terjadilah perkelahian antara mereke. Raksasa keluar dari paseban agung dan diikuti Drestajumna. Raja Drupada khawatir, ia kemudian meminta Gatotkaca, Setyaki dan Antareja untuk mendampingi Drestajumna.

Perang antara Raksasa utusan kerajaan Ceti dengan Drestajumna serta para kadang Pandawa pun berlangsung. Secara bergantian raksasa itu melawan Drestajumna, Gatotkaca, Setyaki dan Antareja. Meski berkali-kali kalah, sang duta tetap memaksa maju. Hingga akhirnya dengan nasihat Togog, sang duta memilih pulang. Serangan gabungan dari Gatotkaca di udara dan Antareja di bumi membuat bingung sang raksasa. Kembalilah duta raksasa tersebut ke negeri Cethi.

Di negeri Cethi, Sang Raja Supala sedang muram, karena adiknya Supali menginginkan menikah dengan Srikandi. Sedangkan, Supala sangat membenci Kresna. Dia tahu Cempala sangat dekat dengan Pandawa dan pandawa itu dekat dengan Sri Kresna. Baginda Supala pun memberikan nasihat agar adiknya mengurungkan niatnya untuk menikah dengan Srikandi.

Saat itu, datanglah sang duta yang kemudian melaporkan bahwa lamaran ditolak, dan ia dikeroyok oleh tiga satria dari pihak Pandawa. Dengan penuh emosi, Prabu Supala berkata agar Supali mengurungkan niatnya. Namun tiba-tiba Supali nekad dan berkata akan merebut Srikandi dengan cara mencurinya dari kerajaan Cempala. Supalai bergegas meninggalkan paseban dan melesat ke Cempala.

Khawatir dengan keselamatan adiknya, Prabu Supala mengutus patihnya untuk menyusul adiknya.  Jika nanti ada berita kemalingan dan malingnya tidak ketemu, berarti Supali selamat, namun juga sebaliknya, jika ada berita kemalingan dan malingnya ditangkap, sang patih jelas harus berperang menyelamatkan Supali.

Di tengah hutan, Arjuna dengan disertai Punakawan sedang bertirakat. Ajuna mengungkapkan kepada Ki Semar kalau dirinya bingung bagaimana cara membangun taman Mowokoco tersebut. Oleh karena itu, Arjuna menggelar laku prihatin dengan memasuki hutan dan bertirakat meminta petunjuk dewata.Punakawam ,enghibur dengan gending dan juga guyonan mereka. Tiba-tiba datanglah raksasa. Raksasa ini merupakan sebagain pasukan dari patih negara Cethi.

Terjadilah pertarungan seru dan sebagian pasukan raksasa tumpas dan yang lain lebih memilih melarikan diri. Turunlah Batara Kamajaya, beliau member hormat kepada Semar, ayahnya dan memberikan air kehidupan dalam cupu kepada Arjuna. Khasiat dari air kehidupan itu adalah bisa menghidupkan kembali apapaun yang musnah. Batara kamajaya menyuruh Arjuna untuk menyiramkannya di aman Mowokoco pada hari anggara kasih pas bulan purnama. Setelah itu Batara kajamaya kembali ke kahyangan. Arjuna dan Punokawa pun bergegeas ke Cempala.

Sementara itu, para pandawa yang lain menuju ke hastina untuk meminta bantuan Hyang Drona. Kasak-kusuk terjadi saat Prabu Duryodana menerima kedatangan Sri Kresna dan Pandawa. Kurawa merencanakan sebuah siasat licik dan menerima permintaan Pandawa. Bersama Prabu Baladewa, Kurawa bergegas menuju Cempala. Sementara Hyang Drona bingung karena tidak tahu bagaimana caranya menghidupkan kembali taman Murwokoco.

Arjuna yang disertai Punokawan sampai di Cempala langsung menuju ke kaputren dan bretemu dengan Srikandi. Arjuna kemudian menaburkan air kehidupan di taman Morwokoco, sehingga taman berubah menjadi taman yang indah luar biasa.

Sementara itu Korawa beristirahat begitu sampai di Cempala. Karena lelah mereka tertidur, tanpa diduga, Supali berhasil mengambil senjata nenggala Prabu Baladewa. Gegerlah Cempala karena Prabu Baladewa kehilangan senjata. Drestajumna mengambil keputuasan siapa saja yang mengambil senjata nenggala akan dijatuhi hukuman mati.

Supali berhasil menyusup masuk ke taman hendak menculik Srikandi. Bertemulah ia dengan Arjuna. Arjuna begitu melihat senjata nenggala, berhati-hati dan mengatakan kepada Supali bahwa ia hanya seorang juru taman. Arjuna lalau meminta senjata dari tangan Supali. Karena tidak tahu kehebatan nenggala, Supali pun menyerahkannya kepada Arjuna. Saat Supali legah, Arjuna menusukkannya ke dada Supali. Supali tewas dan oleh Arjuna mayat Supali diterbangkan dengan sepi angin ke negera asalnya.

Datanglah petruk dengan tergopoh-gopoh menghadap Arjuna, dia berkata bahwa ada woro-woro, siapa saja yang memegang senjata nenggala akan dijatuhi hukuman mati. Arjuna tertuduj karena memegang senjata nenggala. Arjuna menjadi bingung.

Kebetulan Werkudara dan Puntadewa juga ada di Cempala, maka diajaklah Arjuna oleh petruk untuk bertemu dengan kedua kakaknya.Arjuna pun menceritakan apa yang terjadi kepada kedua kakaknya. Puntadewa tidak bisa mengambil keputusan. Akhirnya Werkudara mengambil nenggala dan menusukkannya ke dada Arjuna, tewaslah Arjuna.

Petruk protes kenapa Arjuna malah dibunuh, Werkudara hanya bilang agar Petruk nanti menurut saja kalau disuruh menjadi saksi. Kentongan tana bahaya pun ditabuh.

Prabu Drupada, Drestajumna, Sri kresna, Baladewa datang ke tempat kentongan ditabuh. Mereka kemudian bertanya apa yang terjadi, kenapa Arjuna bisa terbunuh.

Werkudara bilang bahwa ia mendengar suara “gedebuk”, setelah ia lihat ternyata Arjuna sudah mati. Maka mereka menyepakati untuk melihat senjatanya. Dari senjata nant bisa diketahui siapa pembunuhnya. Ketika melihat senjata nenggala, maka Werkudara berpura-pura menuduh Baladewa membunuh Arjuna. Baladewa bingung dan ketakutan karena justru dia baru kecurian senjata nenggalanya.

Akhirnya, Sri Kresna memutuskan untuk menghidupkan Arjuna agar lebih jelas perkaranya. Namun sebelum Arjuna dihidupkan, Werkudara meminta bahwa ketetapan siapa saja yang kedapatan membawa nenggala akan dihukum mati dicabut. Prabu Drupada bersedia mencabut putusan tersebut dan sekaligus menasihati Drestajumna agar tidak sembarangan mengeluarkan keputusan.

Dengan kembang Wijayakusuma, Kresna menghidupkan Arjuna. Setelah hidup kembali, Arjuna menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Arjuna pun tidak jadi dihukum mati, namun diminta membuktikan keberadaan mayat Supali. Arjuna segera pergi ke negara Cethi. Di sanalah, mayat Supali mendarat.

Supala sangat marah dan berniat menyerbu Cempala. Namun kemudian dipapak Arjuna sehingga terjadi perkelahian antara keduanya. Raja Supala berhasil dibekuk Arjuna dan dibawa ke Cempala.

Sesampainya di cempala, Supala mengakui bahwa adiknya, Supali mau mencuri Srikandi. Di depan prabu Drupada, Supala pun memaki-maki Sri Kresna. Sri Kresna tak menjawab dan justru meminta Prabu Drupada membebaskan Supala.

Sri Kresna kemudian ditanya kenapa ia tidak menjawab ketika dimaki-maki, maka Prabu Kresna menjawab, selama Supala tidak menghinanya di depan 100 orang, maka ia tak akan dibunuh. Supala akhirnya dibebaskan. (Supala di penggal kepalanya dengan cakra oleh Sri Kresna dalam lakon rajasuya karena menghina Kresna di depan 100 orang).

Srikandi pun akhirnya dinikah dengan Arjuna. Pernikahan dilakukan di Cempala. Sementara, rombongan Kurawa kembali ke hatina tanpa pamit karena malu. Hyang Drona pun kembali ke Soka lima, dia merasa malu karena tidakmampu membangung taman Morwokoco.

KELAHIRAN ARJUNA

Prabu basudewa, raja Mandura duduk diatas singgasana dihadap oleh Raden Ugrasena, Raden Arya Prabu Rukma dan Patih Saragupita. Mereka sedang membicarakan keinginan Dewi Badraini, isteri Prabu Basudewa yang minta dicarikan Kidangwulung. Oleh karena itu, raja ingin pergi ke hutan Tikbrasara untuk mencari kidangwulung demi memenuhi keinginan isterinya.

Prabu Basudewa menemui Dewi Mahendra dan Dewi Badraini untuk memberi tahu rencana kepergiannya ke hutan Tikbrasara. Dengan disertai Arya Prabu Rukma, Patih Saragupita dan pengawal, Prabu Basudewa berangkat ke hutan Tikbrasar. Sedangkan Ugrasena tinggal di negara untuk menjaga keamanan istana.

Di hutan Bombawirayang, Dewi Maherah dihadap oleh Suratimantra, abdi Kepetmega Togog dan Sarawita.Mereka tengah membicarakan perihal kegelisahan Dewi Maherah karena kematian Gorawangsa dan bayi dalam kandungannya. Ia minta untuk dicarikan Waderbang Sisik Kencana (Ikan badar merah bersisik emas), pusaka kerajaan Mandura yang diperoleh sejak kelahiran Kakasrana.

Suratimantra bersama Togog kemudian minta diri kemudian menghimpun prajurit dan menuju ke negara Mandura. Terjadilah pertempuran prajurit Mandura dengan prajurit raksasa.

Begawan Abiyasa dihadap oleh Pandu, Yamawidura, Patih Kuruncana dan Dewi Kunthi. Kunthi mengajukan permohonan supaya dicarikan Kitiran Seta (Baling-baling Putih) sebagai syarat kelahiran bayi di kandungannya.

Pandu pun ditugaskan untuk mencarikannya. Pandu segera minta diri untuk mencari Kitiran Seta. Di tengah perjalanan, Pandu bertemu dengan Suratimantra yang kemudian terjadi perkelahian diantara keduanya. Akhirnya Suratimantra melarikan diri dan Pandu melanjutkan perjalannya.

Pandu datang ke Karangdhempel, disambut oleh Semar, gareng, Petruk dan Bagong. Pandu mengutarakan tujuannya darting ke Karangdhempel yakni untuk mengajak semar dan putera-puteranya mencari Kitiran Seta.

Pandu dengan disertai Punakawan kemudian berangkat. Mereka mulai memasuki hutan, namun tiba-tiba seekor harimau datang menghadang mereka. Terjadilah perkelahian antara harimau dengan Pandu. Namun harimau tersebut kemudian musnah dan menjelma menjadi Dewa Kamajaya.

Pandu menghormat, Bathara Kamajaya kemudian memberitahu bahwa Kitiran Seta dimiliki oleh Ditya Kalapisaca yang tinggal di Krendhasara. Dewa Kamajaya pun kembali ke Suralaya, Pandu dan punakawan menuju ke Krendhasara.

Prabu Basudewa, Arya Prabu dan patih Saragupita telah sampai di tengah hutan Tikbrasara. Mereka berunding bagaimana caranya untuk menghalau binatang supaya masuk ke Pagrogolan. Prajurit beramai-ramai menghalau binatang agar masuk ke Pagrogolan, termasuk Kidangwulung. Akhirnya Kidangwulung berhasil ditangkap dan dibawa pulang ke Mandura.

Utusan Dewi Maherah, Suratimantra berhasil masuk ke taman Randhugumbala di negara Mandura dan berhasil mencuri Waderbang Sisik Kencana dan dibawa pulang ke hutan Bombawirayang untuk diserahkan kepada Dewi Maherah.

Tak berapa lama, bayi yang berada dalam kandungan Dewi Maherah lahir yang kemudian diberi nama Kangsa. Bayi yang baru dilahirkan Dewi Maherah dibawa oleh Suratimantra ke Mandura agar diakui anak oleh raja Basudewa.

Di sebuah gua di hutan Krendhasara tinggalah sepasang raksasa dan raseksi bernama Ditya Pisaca dan Pisaci. Ditya Pisaci bercerita kepada Kala Pisaca, suaminya bahwa semalam ia bermimpi kehilangan sebelah matanya.

Datanglah raja Pandu yang disertai Punakawan dan mengutarakan  maksud tujuan mereka kepada sepasang raksasa-raksesi tersebut yakni meminta Kitiran Seta kepada Kala Pisaca.

Namun Kala Pisaca mempertahankan Kitiran Seta. Terjadilah pertempuran antara Pandu dan Kala Pisaca. Pandu berhasil mengalahkan Kala Pisaca, Kitiran Seta pun berhasil ia dapatkan. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan rombongan Prabu Basudewa yang hendak kembali ke Mandura. Pandu pun mengutus petruk untuk membawa Kitiran Sewu untuk  dibawa pulang ke Astina.

Di Astina, Begawan Abyasa, Yamawidura, Kunthi, Madrim, Puntadewa dan Bima berkumpul. Mereka menanti kedatangan Pandu. Tak lama, datanglah Petruk membawa Kitiran Seta dan member tahu bahwa raja Pandu sedang mengantar Prabu Basudewa ke Mandura.

Kunthi yang sudah hamil tua melahirkan setelah menerima Kitiran Seta. Mereka yang ada di ruangan itu gugup dan bingung, Bima kemudian membawa bayi yang baru lahir itu ke Mandura menyusul ayahnya, Pandu. Begawan Abyasa dan Petruk mengawal dari belakang.

Sementara di Mandura, Ugrasena menghadap Dewi Mahendra dan Dewi Badraini. Mereka menanti kedatangan raja Basudewa. Tak lama kemudian, datanglah Prabu Basudewa yang disertai Pandu dan Arya Prabu. Kidangwulung kemudian diserahkan kepada Dewi Badraini. Lahirlah bayi dari kandungan Dewi Badraini. Bayi tersebut perempuan dan diberi nama Sumbadra.

Bima yang membawa adiknya yang masih bayi dengan disertai Begawan Abyasa dan Petruk sampai di Mandura. Bayi tersebut kemudian diserahkan kepada ayahnya, Pandu. Pandu menerima puteri ketinganya tersebut yang kemudian diberi nama Permadi. Begawan Abyasa member nama Palguna dan Bima member nama pangglan Jlamprong.

Bayi perempuan sembadra dan bayi laki-laki Parmadi dipangku oleh raja Basudewa. Sumbadra pada paha kiri dan Parmadi pada paha kanan. Basudewa berkata, kedua bayi ditunangkan, kelak supaya hidup sebagai suami isteri dan menurunkan raja besar.

Tiba-tiba datang Suratimantra membawa bayi bernama Kangsa. Suratimantra memberi tahu, bahwa bayi itu anak Dewi Maherah. Begawan Abyasa menyuruh agar Suratimantra bersama bayi Kangsa menungu di alun-alun.

Prabu Basudewa ingat bahwa bayi itu adalah anak dari Dewi Maherah, isterinya dengan Gorawangsa. Maka diutuslah Ugrasena untuk ke alun-alun member tahu bahwa ia tidak mau menerima Kangsa sebagai putera raja.

Ugrasena datang ke alun-alun dan menyampaikan pesan rajanya, namun Suratimantra marah dan terjadi perkalahian antara keduanya. Suratimantra tidak mampu melawan Ugrasena, namun bayi Kangsa menjadi kuat dan membela Surati mantra. Tidak ada yang mampu melawan kekuatan Kangsa, hingga akhirnya Prabu Basudewa mau mengakuinya sebagai anak dan diberi tempat tinggal di Sengkapura. Suratimantra ditugaskan untuk mengasuhnya. Suratimantra memberi nama anak Dewi Maherah itu Kangsadewa.

Perajurit Bombawirayang mengira Suratimantra dan Kangsa mati di Mandura. Mereka berbondong-bondong menyerang negara Mandura. Bima yang ditugaskan melawan serangan berhasil melenyapkan musuh.

Setelah negara menjadi aman, mereka sidang di istana. Raja Basudewa cemas dan khawatir bahwa Kangsa yang sakti akan menguasai kerajaan dan mengkhawatirkan kedua putranya yang akan menjadi sasaran ambisi Kangsa.

Begawan Abyasa menyarankan agar dua putra raja disembunyikan ke Widarakandang. Raja setuju, agar kedua putranya yang bernama Kakrasana dan Narayana terhindar dari ancaman pembunuhan Kangsa, mereka berdua dititipkan kepada Nyai Sagopi dan Ki Antagopa di Widarakandhang.

BIMA KACEP

Dewi Arimbi merasa kesal hatinya, karena sudah lama suaminya, Arya Werkudara belum kembali. Ia pun merencanakan akan mencari suaminya dengan adiknya, Kalabendana. Adiknya menyarankan agar ditanyakan dulu kepada Bathara Guru, untuk mengetahui apakah Werkudara masih hidup atau mati.Namun, Kalabendana menolak ketika disuruh menghadap Bathara Guru sendirian, ia meminta agar Dewi Arimbi juga ikut serta. Maka terbanglah Dewi Arimbi dan Kalabendana  untuk menghadap Bathara Guru.

Di kahyangan Tinjamaya, Dewi Uma dihadap oleh Emban Suntul Kenyut, ia sedang bermuram durja karena sedang jatuh cinta kepada satria Jodipati, Arya Werkudara. Ia bingung bagaimana jika hal itu sampai diketahui oleh Hyang Girinata.

Dalam pembicaraan itu diketahui, Arya Werkudara sedang tidak ada di Jodipati. Ia sedang bertapa dengan cara tidur Pucang Sewu. Pelayanannya menyarankan Dewi Uma untuk menggoda Arya Werkudara. Dewi Uma merasa lega dan meminta pelayanannya ikut untuk menunjukkan jalan ke Pucung Sewu.

Keduanya pun berangkat dengan memperhatikan keempat penjuru angin dan pusatnya, demikian pula diperhatikan barangkali terlihat sinar (teja) yang berasal dari tubuh Bima. Setelah diketahui tempat pertapaan Bima, pelayanannya menyarankan agar dapat cepat sampai ke tujuan, Dewi Uma akan didukung saja oleh Emban Suntul dan dibawanya terbang.

Sementara di kahyangan Junggring Saloka, Bathara Guru yang dihadap oleh Hyang Kanekaputra dan para dewata merasa terpukul dan heran atas kepergian Dewi Uma tanpa izin. Batara Guru menanyakan kepada Bathara Narada dimana Dewi Uma berada. Bathara Narada memberitahu agar permaisuri Bathara Guru itu dicari ke Pucang Sewu. Batharqa Guru dan Bathara Narada pun segera menuju Pucang Sewu.

Di Pucang Sewu, Arya Werkudara sedang bertapa dengan jalan tidur. Ia bertapa agar pada perang besar nanti dapat memenangkan peperangan. Ia sudah bertapa selama lima belas hari dan tidak akan berhenti sebelum keinginannya terkabul. Karena merasa sudah cukup lama namun belum ada tanda-tanda bahwa permohonannya akan terkabul, ia merasa sedih. Karena kuatnya bertapa, kahyangan sampai bergetar yang berakibat Dewi Uma dan para Bidadari lainnya terpengaruh.

Dewi Uma yang didukung oleh Emban Suntul Kenyut telah sampa di atas Pucang Sewu dan melihat sinar (teja) yang keluar dari tubuh Bima. Dewi Uma pun memberanikan diri menuju tempat Bima bertapa. Dewi Uma memegang kaki Bima untuk membangunkannya. Bima terkejut karena merasa kakinya dipegang oleh seorang wanita.Bima pun bertanya apa yang dikehendaki Dewi Uma.

Demi Uma menjawab bahwa ia ingin membantu terlaksananya keinginan Bima. Dewi Uma kemudian balik bertanya kepada Werkudara, apa yang diinginkannya sehingga ia melakukan tapa tidur itu. Bima menjawab agar ia dapat memenangkan perang yang akan terjadi.

Dewi Uma sanggup membantu terlaksananya hal itu dengan disaksikan oleh embannya. Mendengar jawaban Dewi Uma, Bima merasa tertarik kepada Dewi Uma karena Dewi Uma sengaja menggodanya. Hingga keduanya pun lupa diri.

Bathara Guru marah besar ketika sampai di Pucang Sewu ketika menjumpai isterinya dan Werkudara sedang memadu kasih. Dengan membawa pusaka Kyai Cis Jaludara Bathara Guru mendekati mereka agar berpisah, namun keduanya tidak dapat dipisahkan. Maka pusaka itu kemudian dikenakan antara keduanya, dengan tak disangka-sangka senjata itu memotong phallus Bima yang karena mantra Bathara Guru berubah menjadi senjata Angking Gobel.

Bima merasa malu sekali, demikian dengan Dewi Uma. Bima pun meminta ampun kepada Bathara Guru. Bima kemudian disuruh kembali ke negaranya oleh Bathara Guru. Demikian pula Dewi Uma kembali ke Suralaya, ia hamil dan nanti melahirkan anak yang dinamakan Bimadari, anak inilah yang menolong Bima dalam perang besar Barata.

Bathara Guru menjelaskan kepada bathara Narada bahwa Angking Gobel itu nanti dapat dipakai untuk membasmi hama padi Ginjah Klepon.

Setelah Bima dan Dewi Uma pergi, Bathara Guru menanyakan kepada Bathara Narada bagaimana caranya dapat membalas dendam. Bathara Narada menyarankan agar Bathara Guru menggoda Dewi Arimbi, apalagi Bima sudah tidak mempunyai kejantanan lagi.

Bathara Guru pun menuruti nasihat Bathara Narada. Namun ia bingung dimana dia dapat menemui Dewi Arimbi. Bathara Narada mengatakan bahwa Dewi Arimbi sedang mencari Bima bersama Kalabendana. Bathara Guru harus mencarinya dan agar keinginannya dapat terlaksana, ia harus mengubah diri menjadi Bima.

Bathara Guru yang telah menyamar menjadi Bima bertemu dengan Dewi Arimbi, Kalabendana girang sekali ketika melihat Bima. Demikian juga dengan Bima (gadungan) yang bertemu dengan isteri yang telah cukup lama ia tinggalkan. Ia kemudian meminta agar Kalabendana memisahkan diri. Dewi Arimbi yang merasa rindu karena telah lama tidak bertemu dengan suaminya, tidak menolak ketika diajak memadu kasih oleh Bima, tanpa mengetahui bahwa itu Bima (palsu).

Saat mereka berdua sedang memadu kasih, Bima (asli) lewat tempat itu. Ia marah sekali melihat Dewi Arimbi bersama Bima (gadungan). Dewi Arimbi menjadi bingung, kenapa ada dua Bima. Lama kelamaan Bima (gadungan) tidak dapat menghadapi Bima (asli), sehingga ia berubah kembali menjadi Batara Guru. Bima terkejut dan bertanya mengapa Batara Guru menginginkan isterinya. Dijawab oleh Batara Guru bahwa perbuatannya itu hanya untuk membalas dendam. Setelah jelas persoalannya, mereka pun kembali ke asal masing-masing.

WISANGGENI NIKAH

Raden Wisanggeni, putera Raden Arjuna dengan Dewi Dresanala jatuh cinta dengan Dewi Mustikawati, puteri Prabu Mustikadarwa. Maka menghadaplah Raden Wisanggeni  di Kerajaan Sonyapura untuk meminang Dewi Mustikawati. Pada saat yang sama, ternyata Bomanarakasura putera Prabu Kresna juga meminang Dewi Mustikawati untuk dijadikan istri.

Untuk menentukan siapa yang berhak memboyong Dewi Mustikawati, maka diadakan sayembara tanding antara keduanya. Pertarungan antara keduanya pun tidak dapat dihindarkan. Prabu Mustikadarwa cemas , Sang Prabu takut pertarungan ini bisa berakibat retaknya persaudaraan negeri Dwarawati dan negeri Amarta. Maka agar tidak jatuh korban, Dewi Mustikawati mengubah sayembaranya, barang siapa yang bisa memberikan cupumanik gambar jagad, ia akan bersedia menjadi istrinya.

Raden Setija atau Bomanarakusuma segera ke negeri Dwarawati untuk memohon bantuan ayahandanya, Prabu Kresna  agar dapat mendapatkan cupumanik gambar jagad. Sedangkan Raden Wisanggeni pergi ke kahyangan dengan diantar Raden Antasena, putra Raden Werkudara untuk menghadap Sang Hyang Wenang meminta petunjuk dimana cupumanik gambar jagad berada.

Sang Hyang Wenang pun memberikan cupumanik gambar jagad kepada Raden Wisanggeni. Setelah mohon undur diri kepada Sang Hyang Wenang, Raden Wisanggeni langsung kembali ke negeri Sonyapura untuk membersembahkan cupumanik gambar jagad kepada Dewi Mustikawati.

Raden Wisanggeni akhirnya dinyatakan menang dan berhak mengambil Dewi Mustikawati sebagai istrinya. Sedangkan Raden Sitija kecewa dengan kekalahannya. Oleh Prabu Kresna, Raden Sitija dinasehati bahwa Dewi Mustikawati memang bukan jodohnya, nasib, kelahiran dan kematian serta jodoh seseorang sudah ada rahasia dewa dan Dewa lah yang menentukan.